LESTARI !!!!!
Tahukah kamu bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki
jenis primata paling bervariasi di dunia? Dari 200 jenis primata yang
tercatat di muka Bumi, di Indonesia terdapat 40 jenis atau sekitar 25
persen.
Ironinya, dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen terancam
punah akibat banyak habitat primata yang rusak dan penangkapan ilegal
untuk diperdagangkan. Setiap tahunnya ribuan
kera hasil tangkapan alam diperdagangkan di Indonesia untuk dikonsumsi
atau dijadikan satwa peliharaan.
Tingginya angka konsumsi primata di Indonesia terjadi
karena sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa kera dapat
menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya asma, meski sampai
saat ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Akibat eksploitasi
yang membabi buta ini, sedikitnya 4 primata asal Indonesia benar-benar
akan punah jika tidak segera diselamatkan. Mereka adalah orangutan
sumatera (
Pongo abelii), kukang jawa (
Nyeticebus javanicus), tarsius siau (
Tarsius tumpara), dan simakobu (
Simias cocolor).
1. Orangutan Sumatera (Pongo abelii)
Orangutan Sumatera atau
Pongo abelii merupakan satu diantara hewan mamalia paling langka di Indonesia.
Populasi orangutan sumatera diperkirakan hanya sekitar 6.500 ekor
(Dephut, 2007) saja. Populasinya ini jauh lebih sedikit dibanding
saudaranya, orangutan kalimantan (
Pongo pygmaeus ).
Orangutan Sumatera (
Pongo abelii) hampir mirip dengan orangutan kalimantan (
Pongo pygmaeus)
namun memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil. Tinggi tubuh orangutan
sumatera sekitar 1,25-1,5 meter dengan berat tubuh berkisar 30-50 kg
(betina) dan 50-90 kg (jantan).
 |
| Pongo abelii |
Orangutan Sumatera adalah hewan endemik
pulau Sumatera. Spesies kera besar seperti halnya gorila dan simpanse
ini hanya bisa ditemukan di hutan Sumatera saja dan merupakan spesies
primata besar paling langka di dunia.
2. Kukang jawa (Nyeticebus javanicus)
Kukang bernama latin
Nycticebus javanicus ini merupakan primata endemik Pulau Jawa. Kukang jawa termasuk salah satu primata terlangka dan paling terancam kepunahan karena itu oleh IUCN Redlist dikategorikan sebagai spesies Endangered (Terancam Punah).
 |
| Nycticebus javanicus |
Sebelumnya, kukang jawa dianggap sebagai anakjenis (sub spesies) dari Nycticebus coucang (Kukang Besar) namun kemudian diakui sebagai spesies tersendiri. Nama ilmiahnya bersinonim dengan Nycticebus ornatus (Thomas, 1921).
3. Tarsius Siau (Tarsius tumpara)
Tarsius siau atau Tarsius tumpara merupakan spesies asli pulau Siau, Sulawesi ini terancam punah. Bukan sekedar diberikan status Critically Endangered oleh IUCN Red List, bahkan Tarsius tumpara atau Siau Island Tarsier pun termasuk salah satu dari 25 Primata paling terancan punah di dunia.
Sesuai namanya, Siau merupakan hewan endemik yang hanya bisa dijumpai di pulau Siau, Sulawesi Utara. Meskipun diduga
juga terdapat di beberapa pulau kecil di sekitar pulau Siau. Hewan ini baru ditemukan pada tahun 2005 oleh Dr Shekelle.
 |
| Tarsius tumpara |
Tarsius siau dikenal sebagai Siau Island Tarsier dalam bahasa Inggreis . Sedangkan nama ilmiah salah satu anggota famili Tarsiidae dari genus Tarsius ini adalah Tarsius tumpara. Kata ‘tumpara’ merupakan bahasa daerah Siau untuk menyebut tarsius.
Populasi tarsius siau diperkirakan hanya 1.300-an ekor saja (2009) yang hidup di sekitar kolam air tawar kecil di ujung selatan pulau Siau, di tebing curam di sisi pantai timur pulau,
dan di lereng dekat kaldera Gunung Karengetang. Populasi tarsius ini
diperkirakan mengalami penurunan hingga 80% dalam tiga generasi
terakhir.
4. Simakobu (Simias cocolor)
Primata yang berhidung pesek ini merupakan spesies monoleptik (hanya
ada satu jenis primata pada tingkat genus), dengan kata lain simakobu
tidak memiliki saudara semarga. Menurut Presiden
Conservation International, Russel A. Mittermeier, simakobu merupakan satu-satunya monyet pemakan daun berhidung pesek yang berekor melingkar.
Populasi simakobu yang menurun drastis menjadi perhatian bagi
kalangan pemerintah dan pemerhati binatang. Faktor yang mengancam
kelestarian simakobu adalah perburuan yang dilakukan masyarakat adat
setempat. Simakobu dikonsumsi sebagai sumber protein bagi masyarakat
tradisiona
l.
Hal yang harus digaris-bawahi adalah simakobu selalu ingin melihat
ancaman, sehingga tidak melarikan diri ketika ada orang yang berburu.
Sehingga, sangat mudah bagi masyarakat adat untuk memburu simakobu.
Primata yang berukuran sekitar 50 cm dengan berat tubuh kira-kira 7 –
9 kg ini mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora yang
merupakan bagian dari taman nasional siberut. Populasinya yang terus
mengalami penurunan hingga 80% dalam 10 tahun terakhir yang diperkirakan
berjumlah 6.700 – 17.300 ekor di tahun 2006.
 |
| Simias cocolor |
Menyelamatkan
mereka tak cukup dengan mengandalkan kepedulian para LSM pecinta satwa
saja, tetapi kesadaran dari seluruh masyarakat dan pemerintah untuk
saling mengingatkan pentingnya menjaga habitat bangsa kera dan monyet
yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia ini.
Sumber :
sains.kompas.com
matoa.org
alamendah.wordpress.com
id.wikipedia.org
(dengan perubahan seperlunya)