Hiduplah seperti pohon yang tumbuh subur~

Sabtu, Oktober 19, 2013

Luwak Dieksploitasi demi Secangkir Kopi


Luwak Pandan, salah satu dari 60 hewan Luwak peliharaan Hj Yekti Murih Wiyati (37), pemilik usaha kopi Luwak "Luwakmas" di Kampung Luwak, Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. | KOMPAS/ABDUL LATHIF

Organisasi perlindungan hewan, PETA, menyoal eksploitasi luwak atau musang sebagai penghasil kopi bernilai tinggi. Hasil investigasi mereka terhadap produsen kopi luwak di Filipina dan Indonesia menunjukkan, luwak yang dikandangkan dari alam diperlakukan tidak layak.

Para aktivis yang berbasis di Hongkong itu juga menyoal pencantuman kata-kata yang intinya ”berasal dari luwak liar” di kemasan kopi luwak. Itu dinilai bentuk penipuan karena biji kopi dihasilkan dari luwak yang dikandangkan, bukan luwak liar.

”Investigasi kami di desa-desa di Indonesia dan Filipina, negara yang menghasilkan kopi luwak terbesar di dunia, menunjukkan bagaimana luwak hidup di kandang sempit dan kotor serta tidak layak,” kata Jason Baker, Wakil Presiden Operasi Internasional People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), Kamis (17/10/2013), di Jakarta.

Atas temuan ini, ia telah memberi tahu Kementerian Perdagangan. Di sisi lain, ia mengajak konsumen mendukung penghentian praktik itu.

Dalam konferensi pers, PETA menunjukkan rekaman video berisi perilaku stres luwak di dalam kandang. Perilakunya terus-menerus berputar di dalam kandang, menggigit-gigit jeruji kandang, dan mengayun-ayunkan kepala.

Hasil wawancara PETA terhadap sejumlah petani kopi luwak menemukan informasi bahwa luwak dilepas kembali setelah tiga tahun dikandangkan. Itu dinilai terlalu lama dan membuat satwa tak bertahan di alam.

Lebih lanjut Baker menyebutkan, luwak yang biasanya memperoleh buah kopi matang dengan cara memanjat pohon malah dikandangkan. Bahkan, hewan itu dipaksa mengonsumsi buah kopi berlebihan. Padahal, luwak atau musang membutuhkan variasi makanan lain, seperti daging atau buah-buahan.

Terkait tudingan itu, M Teguh Pribadi, Bendahara Asosiasi Kopi Luwak Indonesia (AKLI), tak menampik temuan tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa praktik itu tak dijalankan semua produsen kopi luwak.

Rencana sertifikasi

Saat ini, pihak AKLI masih menunggu persetujuan sertifikat standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) produk kopi luwak dari Kementerian Pertanian. Teguh memastikan dalam SKKNI dicantumkan syarat kesejahteraan hewan/luwak yang dipekerjakan.

Ia mencontohkan, minimal ukuran kandang bagi luwak adalah 2 meter x 1 meter dengan tinggi 2 meter. ”Dalam sehari, luwak membutuhkan makanan sekitar 5 kilogram, 2 kilogram di antaranya biji kopi. Lainnya aneka buah dan daging,” kata Teguh. Dari 1 kilogram kopi yang dikonsumsi, hanya dihasilkan 0,3-0,4 kilogram biji kopi.

Teguh mengatakan, pemberlakuan standar itu juga untuk menghentikan praktik pengoplosan kopi luwak dengan kopi biasa. Terkait tudingan penipuan produsen kopi luwak dengan mencantumkan ”berasal dari luwak liar” di kemasan, ia berbeda pandangan.

”Semua luwak itu diambil dari alam liar. Setahu saya belum bisa diternakkan atau dibudidayakan,” ujarnya.

Kopi luwak dihasilkan dari buah kopi yang dikonsumsi luwak. Feses luwak berupa biji kopi itulah yang kemudian diolah menjadi minuman kopi premium.

Di dunia internasional, kopi luwak menjadi terkenal saat ditayangkan dalam Oprah Winfrey Show dan film The Bucket List. Di restoran di Inggris, satu cangkir kopi luwak seharga sekitar Rp 800.000.

Di Indonesia, harga per cangkir kopi luwak arabika di kedai kopi di Aceh sekitar Rp 60.000, sedangkan kopi arabika biasa Rp 20.000. Adapun bubuk kopi luwak arabika kemasan 100 gram seharga 30 dollar AS (sekitar Rp 300.000) dan kopi arabika biasa 3 dollar AS (Rp 30.000). 




sumber : kompas.com
Read More

Rabu, Oktober 09, 2013

Lawan Infeksi Bakteri, Ilmuwan Kembangkan Pil Tinja


Koloni Clostridium difficile pada media darah. | Wikipedia

Seorang dokter dari Kanada menemukan metode baru untuk mengobati infeksi bakteri Clostridium difficile dengan cara meminum pil tinja. Infeksi bakteri Clostridium difficile sangat mematikan. Kondisi ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami diare hebat, turun berat badan, dan bahkan bisa juga memicu kegagalan fungsi ginjal. Di Amerika Serikat, tercatat setiap tahun 14.000 orang meninggal karena bakteri ini, kasus serupa juga pernah merebak di Australia.

Saat ini pasien yang menderita infeksi bakteri Clostridium difficile biasa diobati dengan metode transplantasi feses atau memasukkan kotoran dari orang sehat ke usus penderita diare hebat yang sering disebabkan oleh bakteri ini. Namun, kini Doktor Thomas Louie dari Universitas Calgary di Kanada berhasil menciptakan cara mencuci sampel kotoran dari donor dan menguranginya hanya tinggal bakteri penting yang kemudian bisa ditelan dalam bentuk pil.
“Pada dasarnya pil itu hanya berisi bakteri, dan bentuknya seperti selai kacang,” katanya dalam program "World Today".
"Pil itu tidak bau karena semua zat sudah dicuci dan pada dasarnya kita hanya menambahkan sedikit garam agar sedikit ringan, dan kemudian kita masukkan ke dalam kapsul.”
Kapsul itu akan menyalurkan bakteri ke tempat yang tepat karena hanya akan hancur jika sudah sampai di perut. Pengobatan antibiotik tradisional bisa sangat membahayakan bagi perut pasien. Karenanya, saat ini ada metode baru berupa transplantasi bakteri usus yang telah terbukti berhasil. Sampai saat ini cara terbaik untuk mendapatkan bakteri baik kembali adalah dengan mengambil  sampel tinja dari donor yang sehat dan sistem transplantasi dubur dasar.
Dr Louie mengatakan, pengobatan bakteri Clostridium difficile dengan cara tradisional dalam banyak kasus bisa meningkatkan kemungkinan tumbuhnya infeksi baru. "Ketika kita mengobati bakteri ini dengan standar antibiotik, kita juga merusak flora di perut  dan itu yang menyebabkan infeksi kembali kambuh,” katanya. Profesor Thomas Riley, salah seorang pakar bakteri Clostridium difficile di Australia, mengatakan, selama ini transplantasi feses sudah sangat berhasil.
"Hasil transplantasi feses sangat bagus. Responsnya 90-95 persen lebih baik dari pengobatan melalui obat-obatan,” ujarnya. Dia mengatakan, dokter perlu memastikan donasi feses yang akan digunakan tidak mengandung bakteri yang bisa menulari infeksi. "Donasi feses harus diteliti dulu apakah mengandung parasit atau cacing atau tidak,” kata Profesor Riley. "Biasanya para donor juga terdiri dari anggota keluarga pasien, jadi bukan orang asing, dan itu hal yang penting juga."
"Setidaknya Anda tahu dari mana sampel feses itu berasal—itu bukan dari seseorang yang tidak Anda kenal. Donor harus berasal dari keluarga sendiri." Meski demikian, Dr Louie mengaku metode temuannya jauh lebih baik daripada transplantasi feses di perut. Menurutnya, meminum pil tinja masih belum umum dilakukan dan ada faktor menjijikkan.

Sumber : ABC Australia ,  KOMPAS.com 
Read More

Inilah Rupa Otak Einstein



Penelitian mengungkap bahwa otak Einstein memiliki beberapa perbedaan karakteristik dibanding otak manusia umumnya. Diduga, perbedaan itu berkontribusi pada kecerdasan Einstein. | NMHM, SILVER SPRING, MD
Bagi yang belum pernah melihat, gambar di atas menunjukkan otak Albert Einstein. Tahun 1955, setelah Einstein meninggal, ahli patologi dari Princeton University, Thomas Harvey, mengambil otak sang genius itu lewat autopsi. Ia berharap kecerdasan bisa terungkap dengan meneliti otak tersebut.
Beragam penelitian kemudian nyatanya memang mengungkap beberapa keunikan otak Einstein yang diduga terkait dengan kecerdasannya. Tahun 1985, peneliti bernama Marian Diamond mengungkap bahwa otak Einstein memiliki lebih banyak sel glial sehingga organ tersebut mampu bekerja lebih efektif. Hasil penelitian ini menarik namun dianggap kurang dapat dipercaya.
Tahun 1995, penelitian lain mengungkap bahwa memiliki bagian lobus parietal yang ukurannya 15 persen lebih besar dari orang normal dan tidak memiliki celah yang biasanya didapati pada orang umumnya. 
Lobus parietal bertanggungjawab pada kemampuan spasial dan matematis. Ukuran yang besar menunjukkan kemampuan matematis yang lebih tinggi. Sementara dengan tak adanya celah, sel-sel dalam lobus parietal otak Einstein mampu berkomunikasi lebih cepat sehingga mendukung kemampuan berpikir.
Tahun 2012, hasil penelitian Dean Falk dari Florida State University dan rekannya menunjukkan bahwa bagian depan otak depan, bagian somatosensori, motor primer, lobus parietal, korteks temporal, dan oksipitalis pada otak Einstein istimewa. Dengan keistimewaan itu, Einstein memiliki kemampuan penglihatan, spasial, dan matematis yang istimewa.
Riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Brain pada 24 September 2013, seperti diberitakan Huffington Post,  kembali mengungkap keunikan otak sang genius. Riset yang juga dilakukan oleh Dean Falk tersebut menemukan bahwa corpus callosum, bagian yang menghubungkan bagian kiri dan kanan otak, unik.
Setelah membandingkan dengan corpus callosum dari 15 pria tua dan 52 pria yang lebih muda yang hidup pada tahun 1905, Falk menemukan bahwa bagian corpus callosum Einstein lebih tebal sehingga mendukung komunikasi antara dua bagian otak yang lebih baik, membuat Einstein punya kecerdasan lebih tinggi.
sumber : KOMPAS.com 
Read More

Selasa, September 10, 2013

Blobfish, Ikan Langka Berwajah Muram


SYDNEY - Tim peneliti dari University of York, Inggris menemukan seekor ikan yang dinamakan Blobfish. Spesies ikan ini menjadi terkenal karena reputasinya yang memiliki wajah muram, seperti orang tengah dirundung kesedihan.
detail berita


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Actinopterygii
Ordo:Scorpaeniformes
Famili:Psychrolutidae
Genus:Psychrolutes
Spesies:P. marcidus

Blobfish yang ditemukan di sebelah tenggara perairan Australia nampaknya memiliki alasan kuat untuk menampilkan wajah sendu. Karena berdasarkan keterangan professor Callum Roberts, Blobfish terancam punah akibat aksi penangkapan ikan secara besar-besaran. 

"Blobfish sangat rentan terjerat pukat nelayan dan kita tahu bahwa Blobfish hanya bisa hidup di perairan ini," kata Roberts seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (27/1/2010).

Penghuni wilayah perairan dalam yang berwujud gemuk tersebut dapat tumbuh hingga seukuran 12 inci. Meskipun tidak dapat dimakan, Blobfish hidup di kedalaman air yang hampir sama dengan organisme laut lain yang bisa dikonsumsi, seperti kepiting dan lobster. Rata-rata Blobfish hidup di kedalaman yang berjarak hingga 800 meter dari permukaan air. Itu sebabnya keberadaan Blowfish sangat jarang terlihat oleh manusia.

Berkat teknik memancing yang tidak membahayakan spesies langka, para ilmuwan berhasil menangkap Blobfish untuk kemudian diteliti.

"Perairan Australia dan New Zealand merupakan wilayah yang paling aktif di dunia dalam melakukan penangkapan ikan berskala besar. Maka jika Anda menjadi Blobfish, wilayah ini bukanlah tempat yang baik untuk dijadikan tempat tinggal," tandasnya.
www.okezone.com
Read More

Senin, September 02, 2013

Penemu kromosom manusia ternyata orang Indonesia



real%20kromosom Penemu kromosom manusia ternyata orang Indonesia


  Siapa menyangka bahwa seorang ilmuwan dari Indonesia ternyata berperan penting dalam perkembangan bioteknologi khususnya genetika. Bersama koleganya dia menemukan dan memastikan bahwa kromosom manusia berjumlah 23 pasang, padahal sebelumnya para ilmuwan lain sangat meyakini bahwa jumlah kromosom manusia adalah 24 pasang.Kisahnya bermula tahun 1921. Ada 3 orang yang datang kepada Theophilus Painter meminta untuk ‘dikebiri’. Dua pria kulit hitam dan seorang pria kulit putih itu merelakan ’senjata’ mereka dicopot berdasarkan kepercayaan yang mereka anut. Painter yang orang Texas ini lantas mengamati isi testis ketiga orang tadi, dia sayat tipis-tipis, lalu diproses dengan larutan kimia, dan dia amati di bawah mikroskop. Ternyata ia melihat ada serabut-serabut kusut yang merupakan kromosom tak berpasangan pada sel testis. Menurut hitungannya saat itu ada 24 kromosom. Dia sangat yakin, ada 24 kromosom. Penemu kromosom manusia ternyata orang IndonesiaKeyakinan ini diperkuat oleh ilmuwan lain yang mengamati dengan cara berbeda, mereka pun mendapat hasil yang sama, 24 kromosom. Bahkan hingga 30 tahun ‘keyakinan’ ini bertahan. Begitu yakinnya para ilmuwan akan hitungan ini sampai-sampai ada sekelompok ilmuwan meninggalkan penelitian mereka tentang sel hati manusia karena mereka tidak menemukan kromosom ke-24 dalam sel tersebut, mereka hanya menemukan 23 saja. Ilmuwan lain berhasil memisah-misahkan kromosom manusia dan menghitungnya, jumlahnya? Tetap 24 pasang.
kromosom%20normal Penemu kromosom manusia ternyata orang Indonesia
Barulah 34 tahun setelah ‘tragedi’ pengebirian oleh Painter, ilmuwan menemukan cara untuk memastikan bahwa jumlah kromosom manusia hanya ada 23 pasang, bukan 24 pasang. Adalah Joe-Hin Tjio yang bermitra dengan Albert Levan di Spanyol menemukan teknik yang lebih baik untuk mendapatkan jumlah 23 pasang kromosom manusia. Bahkan ketika mereka menghitung ulang gambar eksperimen terdahulu yang menyebutkan bahwa jumlahnya ada 24, mereka mendapati hanya ada 23. Benar-benar aneh, mata siapa yang bisa error begini?
Memang kenyataan bahwa manusia hanya memiliki 23 pasang kromosom dianggap aneh dan mengejutkan. Pasalnya, simpanse, orang utan, dan gorila, yang kandungan genetiknya mirip dengan manusia ternyata memiliki 24 pasang kromosom. Jadi kromosom manusia ini lain daripada bangsa kera yang lain. Usut punya usut, ternyata ada dua kromosom pada gorila yang jika digabungkan ukurannya akan mirip dengan kromosom ke-2 pada manusia. Sungguh ajaib memang, perbedaan yang ‘kecil’ ini ditambah sedikit keragaman antara gen-gen manusia dan gorila, membuat penampakan keduanya jauh berbeda.
image2 Penemu kromosom manusia ternyata orang Indonesia
Seperti ditulis dalam Encyclopedia Britannica, Tjio lahir di Jawa, 2 November 1919. Tjio kecil bersekolah di sekolah penjajah Belanda, kemudian dia sempat mendalami fotografi mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang fotografer profesional. Namun selanjutnya Tjio memutar stir ke bidang pertanian dengan kuliah di Sekolah Ilmu Pertanian di Bogor, waktu itu Tjio berusaha mengembangkan tanaman hibrida yang tahan terhadap penyakit. Dari sinilah pondasi ilmu genetika membawanya menjadi seorang ahli genetik terkemuka kelak.
Sempat dipenjara selama tiga tahun saat masa pendudukan Jepang, Tjio melanjutkan pendidikannya ke Belanda melalui program beasiswa. Ia melanjutkan kembali studinya mengenai cytogenetik tanaman dan serangga hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut. Kemudian Tjio menghabiskan waktu 11 tahun di Zaragoza setelah pemerintah Spanyol mengundangnya untuk melakukan studi dalam program peningkatan mutu tanaman.
Di sela-sela liburannya, Tjio pun nyambi riset di Institute of Genetics di Lund Swedia dan tertarik untuk meneliti jaringan sel mamalia. Di sinilah penemuannya yang menghebohkan itu ia lakukan.
Pada tahun 1955, Tjio menggunakan suatu teknik yang baru ditemukan untuk memisahkan kromosom dari inti (nukleus) sel. Ia merupakan salah satu peletak pondasi cytogenetik modern, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan aktifitas kromosom serta mekanisme hereditas, sebagai sebuah cabang utama ilmu genetika. Penelitiannya yang lain pada tahun 1959 membawa pada penemuan bahwa orang-orang yang terkena Down Syndrome memiliki tambahan kromosom dalam sel-sel mereka.
Ada cerita menarik di balik penemuan jumlah 23 pasang kromosom ini, selain memang hasil penelitiannya yang menghebohkan, Tjio pun melakukan tindakan yang cukup menggemparkan dunia riset Eropa karena ia menolak untuk mencantumkan Albert Levan (kepala Institute of Genetics tempat risetnya dilakukan) sebagai Author utama dalam jurnal yang diterbitkan dalam Scandinavian Journal Hereditas tahun 1956 itu, padahal itu sesuatu yang ‘wajib’ sesuai konvensi Eropa yang telah berlangsung lama. Tjio bahkan mengancam akan membuang pekerjaannya itu jika Tjio tidak dicantumkan sebagai Author utama. Akhirnya, mengingat ini adalah penemuan besar, Levan mengalah dan dia dicantumkan hanya sebagai co-author.
Karir terakhir Tjio bekerja di NIH (National Institute of Health) Washington. Di sana ia mengkompilasi koleksi foto-foto ilmiah yang mendokumentasikan penelitian-penelitiannya yang luar biasa. Ternyata bakat fotografi terpendamnya tersalurkan juga di NIH. Prestasi Tjio pun tak bisa dipandang remeh, terbukti dengan anugerah Outstanding Achievement Award dari Presiden Kennedy tahun 1962.
Tjio meninggal pada tanggal 27 November 2001, 25 hari setelah ultahnya yang ke-82 di Gaithersburg, Maryland, Amerika. Kita boleh berbangga sekaligus prihatin, bangga karena ilmuwan kelahiran Indonesia mampu memberi sumbangsih besar untuk ilmu pengetahuan, tapi juga prihatin karena di negeri kita belum menjadi tempat bagi ilmuwan luar biasa.

Banyak potensi besar orang-orang cerdas yang kurang diperhatikan, sehingga mereka dibajak oleh negara-negara lain yang sudah maju dan mau menghargai prestasi mereka, bahkan sejak masih muda. Sebenarnya sangat disayangkan jika orang sehebat Joe-Hin Tjio yang asli Jawa pada akhirnya dikenal sebagai ahli genetik Amerika.
Read More

About me

BIOTA SUMUT

About