Hiduplah seperti pohon yang tumbuh subur~

Selasa, September 10, 2013

Blobfish, Ikan Langka Berwajah Muram


SYDNEY - Tim peneliti dari University of York, Inggris menemukan seekor ikan yang dinamakan Blobfish. Spesies ikan ini menjadi terkenal karena reputasinya yang memiliki wajah muram, seperti orang tengah dirundung kesedihan.
detail berita


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Actinopterygii
Ordo:Scorpaeniformes
Famili:Psychrolutidae
Genus:Psychrolutes
Spesies:P. marcidus

Blobfish yang ditemukan di sebelah tenggara perairan Australia nampaknya memiliki alasan kuat untuk menampilkan wajah sendu. Karena berdasarkan keterangan professor Callum Roberts, Blobfish terancam punah akibat aksi penangkapan ikan secara besar-besaran. 

"Blobfish sangat rentan terjerat pukat nelayan dan kita tahu bahwa Blobfish hanya bisa hidup di perairan ini," kata Roberts seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (27/1/2010).

Penghuni wilayah perairan dalam yang berwujud gemuk tersebut dapat tumbuh hingga seukuran 12 inci. Meskipun tidak dapat dimakan, Blobfish hidup di kedalaman air yang hampir sama dengan organisme laut lain yang bisa dikonsumsi, seperti kepiting dan lobster. Rata-rata Blobfish hidup di kedalaman yang berjarak hingga 800 meter dari permukaan air. Itu sebabnya keberadaan Blowfish sangat jarang terlihat oleh manusia.

Berkat teknik memancing yang tidak membahayakan spesies langka, para ilmuwan berhasil menangkap Blobfish untuk kemudian diteliti.

"Perairan Australia dan New Zealand merupakan wilayah yang paling aktif di dunia dalam melakukan penangkapan ikan berskala besar. Maka jika Anda menjadi Blobfish, wilayah ini bukanlah tempat yang baik untuk dijadikan tempat tinggal," tandasnya.
www.okezone.com
Read More

Senin, September 02, 2013

Penemu kromosom manusia ternyata orang Indonesia



real%20kromosom Penemu kromosom manusia ternyata orang Indonesia


  Siapa menyangka bahwa seorang ilmuwan dari Indonesia ternyata berperan penting dalam perkembangan bioteknologi khususnya genetika. Bersama koleganya dia menemukan dan memastikan bahwa kromosom manusia berjumlah 23 pasang, padahal sebelumnya para ilmuwan lain sangat meyakini bahwa jumlah kromosom manusia adalah 24 pasang.Kisahnya bermula tahun 1921. Ada 3 orang yang datang kepada Theophilus Painter meminta untuk ‘dikebiri’. Dua pria kulit hitam dan seorang pria kulit putih itu merelakan ’senjata’ mereka dicopot berdasarkan kepercayaan yang mereka anut. Painter yang orang Texas ini lantas mengamati isi testis ketiga orang tadi, dia sayat tipis-tipis, lalu diproses dengan larutan kimia, dan dia amati di bawah mikroskop. Ternyata ia melihat ada serabut-serabut kusut yang merupakan kromosom tak berpasangan pada sel testis. Menurut hitungannya saat itu ada 24 kromosom. Dia sangat yakin, ada 24 kromosom. Penemu kromosom manusia ternyata orang IndonesiaKeyakinan ini diperkuat oleh ilmuwan lain yang mengamati dengan cara berbeda, mereka pun mendapat hasil yang sama, 24 kromosom. Bahkan hingga 30 tahun ‘keyakinan’ ini bertahan. Begitu yakinnya para ilmuwan akan hitungan ini sampai-sampai ada sekelompok ilmuwan meninggalkan penelitian mereka tentang sel hati manusia karena mereka tidak menemukan kromosom ke-24 dalam sel tersebut, mereka hanya menemukan 23 saja. Ilmuwan lain berhasil memisah-misahkan kromosom manusia dan menghitungnya, jumlahnya? Tetap 24 pasang.
kromosom%20normal Penemu kromosom manusia ternyata orang Indonesia
Barulah 34 tahun setelah ‘tragedi’ pengebirian oleh Painter, ilmuwan menemukan cara untuk memastikan bahwa jumlah kromosom manusia hanya ada 23 pasang, bukan 24 pasang. Adalah Joe-Hin Tjio yang bermitra dengan Albert Levan di Spanyol menemukan teknik yang lebih baik untuk mendapatkan jumlah 23 pasang kromosom manusia. Bahkan ketika mereka menghitung ulang gambar eksperimen terdahulu yang menyebutkan bahwa jumlahnya ada 24, mereka mendapati hanya ada 23. Benar-benar aneh, mata siapa yang bisa error begini?
Memang kenyataan bahwa manusia hanya memiliki 23 pasang kromosom dianggap aneh dan mengejutkan. Pasalnya, simpanse, orang utan, dan gorila, yang kandungan genetiknya mirip dengan manusia ternyata memiliki 24 pasang kromosom. Jadi kromosom manusia ini lain daripada bangsa kera yang lain. Usut punya usut, ternyata ada dua kromosom pada gorila yang jika digabungkan ukurannya akan mirip dengan kromosom ke-2 pada manusia. Sungguh ajaib memang, perbedaan yang ‘kecil’ ini ditambah sedikit keragaman antara gen-gen manusia dan gorila, membuat penampakan keduanya jauh berbeda.
image2 Penemu kromosom manusia ternyata orang Indonesia
Seperti ditulis dalam Encyclopedia Britannica, Tjio lahir di Jawa, 2 November 1919. Tjio kecil bersekolah di sekolah penjajah Belanda, kemudian dia sempat mendalami fotografi mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang fotografer profesional. Namun selanjutnya Tjio memutar stir ke bidang pertanian dengan kuliah di Sekolah Ilmu Pertanian di Bogor, waktu itu Tjio berusaha mengembangkan tanaman hibrida yang tahan terhadap penyakit. Dari sinilah pondasi ilmu genetika membawanya menjadi seorang ahli genetik terkemuka kelak.
Sempat dipenjara selama tiga tahun saat masa pendudukan Jepang, Tjio melanjutkan pendidikannya ke Belanda melalui program beasiswa. Ia melanjutkan kembali studinya mengenai cytogenetik tanaman dan serangga hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut. Kemudian Tjio menghabiskan waktu 11 tahun di Zaragoza setelah pemerintah Spanyol mengundangnya untuk melakukan studi dalam program peningkatan mutu tanaman.
Di sela-sela liburannya, Tjio pun nyambi riset di Institute of Genetics di Lund Swedia dan tertarik untuk meneliti jaringan sel mamalia. Di sinilah penemuannya yang menghebohkan itu ia lakukan.
Pada tahun 1955, Tjio menggunakan suatu teknik yang baru ditemukan untuk memisahkan kromosom dari inti (nukleus) sel. Ia merupakan salah satu peletak pondasi cytogenetik modern, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan aktifitas kromosom serta mekanisme hereditas, sebagai sebuah cabang utama ilmu genetika. Penelitiannya yang lain pada tahun 1959 membawa pada penemuan bahwa orang-orang yang terkena Down Syndrome memiliki tambahan kromosom dalam sel-sel mereka.
Ada cerita menarik di balik penemuan jumlah 23 pasang kromosom ini, selain memang hasil penelitiannya yang menghebohkan, Tjio pun melakukan tindakan yang cukup menggemparkan dunia riset Eropa karena ia menolak untuk mencantumkan Albert Levan (kepala Institute of Genetics tempat risetnya dilakukan) sebagai Author utama dalam jurnal yang diterbitkan dalam Scandinavian Journal Hereditas tahun 1956 itu, padahal itu sesuatu yang ‘wajib’ sesuai konvensi Eropa yang telah berlangsung lama. Tjio bahkan mengancam akan membuang pekerjaannya itu jika Tjio tidak dicantumkan sebagai Author utama. Akhirnya, mengingat ini adalah penemuan besar, Levan mengalah dan dia dicantumkan hanya sebagai co-author.
Karir terakhir Tjio bekerja di NIH (National Institute of Health) Washington. Di sana ia mengkompilasi koleksi foto-foto ilmiah yang mendokumentasikan penelitian-penelitiannya yang luar biasa. Ternyata bakat fotografi terpendamnya tersalurkan juga di NIH. Prestasi Tjio pun tak bisa dipandang remeh, terbukti dengan anugerah Outstanding Achievement Award dari Presiden Kennedy tahun 1962.
Tjio meninggal pada tanggal 27 November 2001, 25 hari setelah ultahnya yang ke-82 di Gaithersburg, Maryland, Amerika. Kita boleh berbangga sekaligus prihatin, bangga karena ilmuwan kelahiran Indonesia mampu memberi sumbangsih besar untuk ilmu pengetahuan, tapi juga prihatin karena di negeri kita belum menjadi tempat bagi ilmuwan luar biasa.

Banyak potensi besar orang-orang cerdas yang kurang diperhatikan, sehingga mereka dibajak oleh negara-negara lain yang sudah maju dan mau menghargai prestasi mereka, bahkan sejak masih muda. Sebenarnya sangat disayangkan jika orang sehebat Joe-Hin Tjio yang asli Jawa pada akhirnya dikenal sebagai ahli genetik Amerika.
Read More

Jumat, Juni 07, 2013

Solanum mammosum (Terong Susu)

Solanum mammosum (Terong Susu)
Solanum mammosum atau biasa disebut terong susu, Nipplefruit, Titty Fruit, Cow’s Udder termasuk kedalam suku Solanaceae bersama Genus Solanum lainnya seperti Solanum tuberosum (Kentang), Solanum lycopersicum (Tomat), dan Solanum melongena (Terong).

Bentuk tumbuhan ini memang agak aneh, mempunyai tonjolan-tonjolan yang menyerupai payudara wanita. Mammosum sendiri berasal dari kata Mammae yang berarti payudara.

Habitus dari tumbuhan ini adalah perdu dengan tinggi mencapai 1,5 meter. Batangnya tegak, bulat, berkayu, berbulu, dan berwarna hijau pucat. Dari segi daun, Solanum mammosum memiliki daun tunggal, lonjong, duduk daun tersebar, ujung dan pangkal runcing, tepi berlekuk, pertulangan daun menyirip, dengan panjang daun antara 20-23 cm danlebar 8- 12 cm. Pada umumnya berwarna hijau dengan duri tempel yang tersebar.

Bunga dari Solanum mammosum merupakan bunga majemuk, berbentuk bintang, memiliki kelopak (Calyx) yang berbulu, benang sari pendek berwarna kuning, putiknya berwarna hijau.

Buah dari Terong Susu merupakan buah buni (bacca), yaitu buah yang dindingnya memeliki dua lapisan. Lapisan luar yang tipis agak menjangat atau kaku dan lapis dalam yang tebal, lunak, dan berarir. Biji-bijinya terdapat bebas dalam bagian yang lunak itu.

Biji Solanum mammosum berkhasiat sebagai obat cacing, kanker payudara, kencing manis, serta darah tinggi. Untuk obat cacing dipakai kurang lebih 2 gram serbuk biji Solanum mammosum, keringkan, sangrai lalu ditumbuk halus, kemudian diseduh dengan 1/2 gelas air matang panas, setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum sekaligus pada waktu akan tidur.
Biji, daun dan kulit buah Solanum mammosum mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, di samping itu bijinya mengandung alkaloida.

Buah ini memang belum begitu populer dikalangan masyarakat, tapi melihat potensinya sebagai obat alternatif untuk berbagai penyakit, bukan tidak mungkin di masa mendatang “Buah aneh” ini akan mendapat perhatian untuk diolah dan dikembangkan lebih lanjut.

Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliposida
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum mammosum

Kerabat dekat : Solanum tuberosum (Kentang) , Solanum lycopersicum (Tomat), Solanum melongena (Terong) , Solanum torvum (Terong Pipit/Takokak)
Read More

NoPoPo, Baterai tenaga Urin

NoPoPo - No Polution Power
NoPoPo, baterai urin asal Jepang, Pada bulan Februari 2011 uji coba baterai yang menggunakan urin telah dilakukan di Jepang. Teknologi ini memungkinkan karena urin mengandung banyak ion.

Sekarang teknologi ini sudah siap pakai dan sudah siap dijual di Jepang. Nama merk yang dipakai adalah NoPoPo. Saat ini NoPoPo tersedia dalam ukuran AA dan AAA dengan kapasitas listrik mencapai 500 milliamp/hours (mAh), serta dapat diisi ulang 3-5 kali. Jika tidak dipakai, baterai urin inidapat mempertahankan kapasitasnya 5-10 tahun. Sangat berguna untuk diletakkan di berbagai peralatan darurat di tempat terpencil. Baterai ini tidak mengandung bahan berbahaya, jadi bisa dibuang dimana saja.
Read More

Kamis, Juni 06, 2013

Apendiks CITES


Spesies-spesies hewan dan tumbuhan yang berada dalam pengawasan CITES dikelompokkan dalam tiga kelompok yang dinamakan Apendiks I, Apendiks II, dan Apendiks III. Penetapan daftar spesies perkelompok (Apendiks) ditentukan berdasarkan konvensi dalam konferensi Para Pihak (COP).

Tiga apendiks dalam CITES yaitu:


1. Apendiks I adalah daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Apendiks I sedikitnya berisi 800 spesies hewan dan tumbuhan.

2. Apendiks II adalah daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Dalam apendiks II berisi sekitar 32.500 spesies.

3. Apendiks III adalah daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan suatu saat peringkatnya bisa dinaikkan ke dalam Apendiks II atau Apendiks I.

Spesies hewan dan tumbuhan Indonesia yang masuk dalam daftar Apendiks CITES cukup banyak. Total keselurahan binatang Indonesia dalam daftar Apendiks CITES mencapai 1.548 spesies hewan dan 907 spesies tumbuhan dengan perincian sebagai berikut:

- Apendiks I sebanyak 84 spesies hewan 27 spesies tumbuhan.
- Apendiks II sebanyak 1.365 spesies hewan dan 880 spesies tumbuhan.
- Apendiks III sebanyak 9 spesies hewan.

Hewan Indonesia yang termasuk dalam daftar Apendiks I di antaranya adalah macan tutul, gajah sumatera, harimau sumatera, badak jawa, badak sumatera, kakatua kecil jambul kuning, maleo, dan orangutan sumatera. Sedangkan yang termasuk dalam daftar Apendiks II diantaranya adalah trenggiling, dan mentilin (Tarsius bancanus).

Cacatua sulphurea
Apendiks I

Macrocephalon maleo
Apendiks I

Tarsius bancanusApendiks II
Read More

About me

BIOTA SUMUT

About