Hiduplah seperti pohon yang tumbuh subur~

Kamis, Juli 19, 2012

Primata - Primata Yang Nyaris Punah di Indonesia

LESTARI !!!!!

Tahukah kamu bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jenis primata paling bervariasi di dunia? Dari 200 jenis primata yang tercatat di muka Bumi, di Indonesia terdapat 40 jenis atau sekitar 25 persen.

Ironinya, dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen terancam punah akibat banyak habitat primata yang rusak dan penangkapan ilegal untuk diperdagangkan. Setiap tahunnya ribuan kera hasil tangkapan alam diperdagangkan di Indonesia untuk dikonsumsi atau dijadikan satwa peliharaan.

Tingginya angka konsumsi primata di Indonesia terjadi karena sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa kera dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya asma, meski sampai saat ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Akibat eksploitasi yang membabi buta ini, sedikitnya 4 primata asal Indonesia benar-benar akan punah jika tidak segera diselamatkan. Mereka adalah orangutan sumatera (Pongo abelii), kukang jawa (Nyeticebus javanicus), tarsius siau (Tarsius tumpara), dan simakobu (Simias cocolor).

1. Orangutan Sumatera (Pongo abelii
)

Orangutan Sumatera atau Pongo abelii merupakan satu diantara hewan mamalia paling langka di Indonesia. Populasi orangutan sumatera diperkirakan hanya sekitar 6.500 ekor (Dephut, 2007) saja. Populasinya ini jauh lebih sedikit dibanding saudaranya, orangutan kalimantan ( Pongo pygmaeus ).
Orangutan Sumatera (Pongo abelii) hampir mirip dengan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) namun memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil. Tinggi tubuh orangutan sumatera sekitar 1,25-1,5 meter dengan berat tubuh berkisar 30-50 kg (betina) dan 50-90 kg (jantan).


Pongo abelii
Orangutan Sumatera adalah hewan endemik pulau Sumatera. Spesies kera besar seperti halnya gorila dan simpanse ini hanya bisa ditemukan di hutan Sumatera saja dan merupakan spesies primata besar paling langka di dunia.

2. Kukang jawa (Nyeticebus javanicus)

Kukang bernama latin Nycticebus javanicus ini merupakan primata endemik Pulau Jawa. Kukang jawa termasuk salah satu primata terlangka dan paling terancam kepunahan karena itu oleh IUCN Redlist dikategorikan sebagai spesies Endangered (Terancam Punah).


Nycticebus javanicus
Sebelumnya, kukang jawa dianggap sebagai anakjenis (sub spesies) dari Nycticebus coucang (Kukang Besar) namun kemudian diakui sebagai spesies tersendiri. Nama ilmiahnya bersinonim dengan Nycticebus ornatus (Thomas, 1921).



3. Tarsius Siau (Tarsius tumpara)
Tarsius siau atau Tarsius tumpara merupakan spesies asli pulau Siau, Sulawesi ini  terancam punah. Bukan sekedar diberikan status Critically Endangered oleh IUCN Red List, bahkan Tarsius tumpara atau Siau Island Tarsier pun termasuk salah satu dari  25 Primata paling terancan punah di dunia.
Sesuai namanya, Siau merupakan hewan endemik yang hanya bisa dijumpai di pulau Siau, Sulawesi Utara. Meskipun diduga juga terdapat di beberapa pulau kecil di sekitar pulau Siau. Hewan ini baru ditemukan pada tahun 2005 oleh Dr Shekelle.

Tarsius tumpara
Tarsius siau dikenal sebagai Siau Island Tarsier dalam bahasa Inggreis . Sedangkan nama ilmiah salah satu anggota famili Tarsiidae dari genus Tarsius ini adalah Tarsius tumpara. Kata ‘tumpara’ merupakan bahasa daerah Siau untuk menyebut tarsius.
Populasi tarsius siau diperkirakan hanya 1.300-an ekor saja (2009) yang hidup di sekitar kolam air tawar kecil di ujung selatan pulau Siau, di tebing curam di sisi pantai timur pulau, dan di lereng dekat kaldera Gunung Karengetang. Populasi tarsius ini diperkirakan mengalami penurunan hingga 80% dalam tiga generasi terakhir.


4. Simakobu (Simias cocolor)
Primata yang berhidung pesek ini merupakan spesies monoleptik (hanya ada satu jenis primata pada tingkat genus), dengan kata lain simakobu tidak memiliki saudara semarga. Menurut Presiden Conservation International, Russel A. Mittermeier, simakobu merupakan satu-satunya monyet pemakan daun berhidung pesek yang berekor melingkar.

Populasi simakobu yang menurun drastis menjadi perhatian bagi kalangan pemerintah dan pemerhati binatang. Faktor yang mengancam kelestarian simakobu adalah perburuan yang dilakukan masyarakat adat setempat. Simakobu dikonsumsi sebagai sumber protein bagi masyarakat tradisiona
l.
Hal yang harus digaris-bawahi adalah simakobu selalu ingin melihat ancaman, sehingga tidak melarikan diri ketika ada orang yang berburu. Sehingga, sangat mudah bagi masyarakat adat untuk memburu simakobu.
Primata yang berukuran sekitar 50 cm dengan berat tubuh kira-kira 7 – 9 kg ini mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora yang merupakan bagian dari taman nasional siberut. Populasinya yang terus mengalami penurunan hingga 80% dalam 10 tahun terakhir yang diperkirakan berjumlah 6.700 – 17.300 ekor di tahun 2006.

Simias cocolor


Menyelamatkan mereka tak cukup dengan mengandalkan kepedulian para LSM pecinta satwa saja, tetapi kesadaran dari seluruh masyarakat dan pemerintah untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga habitat bangsa kera dan monyet yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia ini.



Sumber :
sains.kompas.com
matoa.org
alamendah.wordpress.com
id.wikipedia.org
(dengan perubahan seperlunya)
Read More

Rabu, Juli 04, 2012

Bayi Badak Andatu, Setelah 124 Tahun


Bayi badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) bernama Andatu telah lahir pada Sabtu (23/6/2012) pukul 00.45. Andatu merupakan hasil perkawinan badak jantan dari Kebun Binatang Cincinnati Andalas dan badak betina Ratu dari Taman Nasional Way Kambas.

ANDATU

Kelahiran Andatu sangat dinanti banyak pihak. Bayangkan, sejak penangkaran badak pertama kali, 124 tahun silam di India. Tak heran, begitu Ratu hamil lagi (dua kehamilan sebelumnya keguguran), tim dokter dari Indonesia, Australia, AS, dan Badan Konservasi Dunia (IUCN) mencurahkan perhatian khusus.

Pasca kelahiran Andatu, para keeper terus berjaga melindungi Andatu dan ibunya, Ratu. Pasalnya, di sekitar habitat badak Sumatera di Way Kambas, terdapat juga ular, harimau, dan hewan lain yang mungkin memangsa.

RATU, IBU DARI ANDATU
Andatu Sedang Berkeliaran di Penangkaran

Nama Andatu singkatan dari anugerah datang dari Tuhan. Bisa juga singkatan dari Andalas dan Ratu, kedua orang tuanya. Andatu merupakan kombinasi nama antara Andalas, badak jantan Sumatera kelahiran Cincinnati, Amerika dan Ratu, badak betina asli hutan Way Kambas, Lampung. Andatu sudah mulai menyusu dengan lancar.Kelahiran ini sekaligus menambah populasi badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang jumlahnya kini diperkirakan kurang dari 200 ekor di Indonesia dan Malaysia. Jumlah mereka terus menurun hingga 50 persen selama 20 tahun terakhir, terutama disebabkan perburuan liar dan perambahan hutan yang menjadi tempat hidup badak.
Kelahiran badak ini juga menjadi tonggak keberhasilan pelestarian badak sumatera sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap upaya konservasi badak di Tanah Air kita. 

Andatu kini dalam kondisi sehat dan diharapkan bisa dilihat kalangan lebih luas sekitar 2 minggu lagi, walau tak secara masif. Sementara itu, Andalas rencananya akan dikawinkan lagi dengan badak sumatera betina lain bernama Rosa dari Bukit Barisan Selatan, dan Bina dari Way Kambas.


Read More

About me

BIOTA SUMUT

About